Profesi perias jenazah bagi sebagian orang mungkin dianggap menakutkan. Bagaimana tidak, profesi yang satu ini dilakukan di kamar jenazah, dan yang dirias adalah orang yang sudah meninggal atau tidak bernyawa.
Namun, Yen Nio (51) tidak merasa takut sedikitpun saat menunaikan pekerjaannya itu. Pasalnya, sejak kecil dia sudah terbiasa berhadapan dengan jenazah. Mulai dari kondisi yang masih bagus, hingga hancur akibat kecelakaan.
"Papa sendiri dulu pernah ditabrak bus kota. Sejak itu, kalau ada kecelakaan musti saya lihat, bagian apa yang pecah, jadi enggak pernah ada rasa takut lagi," ujar Yen Nio saat berbincang dengan merdeka.com di Rumah Duka Jelambar, Jakarta, Jumat (25/5).
Kini, Ice, sapaan Yen Nio, 10 tahun sudah menjalani profesinya. Dalam merias jenazah, dia tidak pernah dibantu siapa pun, semua dikerjakan sendiri.
Sebelum menjalani profesi itu, Ice mengaku senang menjalani tugas menjaga pasien sejak kelas 6 SD. Menanjak dewasa, dia memilih menjadi perawat dan sempat menimba ilmu kesusteran di Taiwan selama beberapa tahun. Kembali dari negeri pulau tersebut, Ice lantas bekerja di beberapa rumah sakit swasta.
Menjelang pensiun, Ice merasa terpanggil menjadi perias jenazah rumah duka di kawasan Jakarta Barat. Sejak itu, dia terus menekuni profesinya sampai sekarang tanpa pernah berpindah-pindah.
"Saya sudah tekan kontrak dengan bos, kalau ada sambilan, bisa-bisa saya dipecat," aku wanita asal Surabaya ini.
Kemampuannya merias tidak datang begitu saja. Ice mengaku mempelajari riasan dari salah seorang temannya. Ketika itu, dia sempat mampir di salah satu salon yang dikelola temannya itu. Dari sana, dia memperhatikan bentuk-bentuk riasan hingga cara merapikan riasan sesuai kondisi kulit.
Sejak menjalani profresi sebagai perias jenazah, Ice mengaku telah merias ribuan jenazah yang sudah dia tangani sejak 2003 lalu. Selama menjalani profesi ini, Ice hanya menggunakan jenis kosmetik yang banyak terdapat di pasaran. Tidak ada trik khusus dalam merias jenazah.
"Kaya merias orang hidup saja," ucapnya singkat.
Dalam merias, Ice mengatakan hanya ada satu kesulitan yang dihadapi tergantung penyakit yang dialami jenazah yang ditangani. Jika penyakit itu diabetes, maka jenazah selalu mengeluarkan cairan dari mulut atau pun hidung.
Untuk menghadapi persoalan ini, dia hanya berusaha melakukan tindakan yang tepat agar cairan itu tidak terus keluar. Salah satunya menggunakan kapas untuk menutupi mulut dan hidungnya.
"Kalau pun hanya kotoran, saya hanya menggunakan pembalut saja," sahut Ice.
Tak jarang Ice menerima permintaan yang bermacam-macam dari anggota keluarga jenazah. Bahkan, dia sempat harus mengulang riasannya kembali.
"Ada keluarga saat memandikan jenazah harus dilihat karena mereka enggak percaya. Kedua mereka juga meminta agar make up jangan menor-menor, harus sederhana saja," cerita Ice.
Ice menganggap pekerjaannya itu selalu mengundang rejeki yang tiada henti untuk menghidupi keluarganya. Dalam sehari, dia sanggup merias 4 jenazah.
Untuk satu jenazah, Ice menetapkan tarif sebesar Rp 100 ribu. Dalam satu bulan saja, wanita kelahiran 1961 ini mampu mendapatkan uang sekitar Rp 4 juta.
"Saya malah dikasih banyak rejeki, karena jenazah enggak mungkin sepi, pasti ada saja," pungkas dia. [dan]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar